Tanpa "TAPI"

Dear, diriku.


Ini adalah sebuah surat dari aku, untuk diriku. 

Diriku, bagaimana perasaan kamu saat ini? Kuharap, kita baik-baik saja — meski aku pernah membencimu. Kita sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama, dari kita dilahirkan sampai saat ini. Sudah banyak kejadian besar yang kita lalui dengan baik. Tapi, banyak pula yang kupikir kejadian tersebut adalah suatu peristiwa buruk. 

Peristiwa "buruk" itu pun sangat beragam. Mulai dari hal besar seperti gagal masuk sekolah yang kuimpikan. Hingga hal sekecil kita tidak makan es krim untuk merayakan sesuatu setelah kita berjanji melakukannya. Apapun itu, aku benci padamu saat itu. 

Sebagai pikiranmu, izinkan aku untuk mengawali surat ini dengan mengucapkan maaf.


Kesalahanku pada Diriku

Dahulu, aku pernah terlalu keras padamu. Aku hanya mengutamakan logika dan teori-teori yang menurut mayoritas orang benar. Kita selalu belajar. Baik di sekolah, tempat les, maupun dunia maya. Kita selalu berpatok bahwa akulah yang paling penting. Bukan Si Hati, tempatnya perasaan. Hati hanya mengganggu kehidupan kita. 

Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku ingin menguasai kamu. Aku ingin sepenuhnya dapat mengontrol kehidupan kita. Aku ingin semua argumenku didengar dan diikuti tanpa didebat. Aku egois, ya?


Dahulu, aku sering memforsir kamu untuk terus produktif dan menghasilkan sesuatu. Lihatlah kata "produktif". Kata dasarnya saja "produk", yang artinya kita harus menghasilkan produk terlebih dahulu sebelum bisa disebut sebagai orang yang produktif. "Produk" itu dapat berupa barang, karya, jasa, atau yang lainnya. Menurutku itulah yang kita butuhkan untuk menunjukkan siapa diri kita. 

Aku selalu ingin kita dianggap dan diterima oleh lingkungan sekitar kita. Aku hanya ingin orang lain melirik dan mencintai kita secara layak. Aku sudah mengobservasi, bahwasanya mereka akan berlaku khusus pada orang yang menghasilkan sesuatu. Jadi aku paksa kamu untuk menjadi produktif. Kuakui, aku memang overthinking terhadap penilaian mereka akan diri kita.


Dahulu, aku selalu mendorongmu untuk menjadi lebih baik daripada orang lain. Aku membandingkan diri, pencapaian, karya, dan prestasimu. Aku membandingkanmu terhadap orang lain dengan berbagai jenis latar belakang. 

Aku pernah membandingkan kamu dengan orang yang usianya empat tahun lebih muda daripada kamu. Karena menurutku, kamu seharusnya lebih berpengalaman, atau minimal kamu lebih lama menjalani kehidupan. Sehingga kamu harus lebih baik dibanding dia.

Aku pernah membandingkan kamu terhadap orang yang keadaan lingkungan sosial yang lebih buruk daripada kamu. "Mereka saja dapat menjadi luar biasa hebat dengan berbagai tekanan kehidupan," kataku dahulu. "Sedangkan kamu semuanya sudah baik dan mendukung. Mengapa malah tidak dapat melakukan  apapun?" Itulah "motivasi" yang kuberikan pada dirimu agar kita selalu menjadi yang terbaik.


Dahulu, aku pernah membencimu. Hingga suatu saat, aku pernah menyuruh kamu untuk "menghukum" diriku — dengan menyakiti diriku. Aku berpendapat bahwa kamu sudah keterlaluan menjalani hidup seperti ini. Kamu benar-benar mempermalukan aku (kita sebenarnya). Aku sangat merasa kamu benar-benar bodoh dalam bertindak. Kamu tidak mendengarkanku untuk menjadi seorang yang logis, produktif, dan terbaik.


Daftar Khusus untuk Diriku

Hingga aku tahu, perbuatan-perbuatanku terdahulu hanyalah menyakitimu. Aku memaksakan sebuah syarat khusus untuk mencintai kamu, atau berusaha agar kita dicintai orang lain. Syarat yang sangat berat yang sudah diterapkan dalam kejadian-kejadian di atas. Jika kutuliskan dalam daftar, syaratnya adalah sebagai berikut.

  • Pertama, kita harus selalu berlandaskan logika dalam berbuat.
  • Kedua, kita harus produktif.
  • Ketiga, kita harus selalu menjadi yang terbaik.

Mengapa Aku Meminta Maaf?

Satu kejadian yang membuatku sadar. Setelah "hukuman" terakhir itu, aku melihat kamu malah semakin jauh dari yang kuharapkan. Kamu jadi semakin tidak produktif karena harus menyembuhkan luka fisikmu terlebih dahulu. Kamu juga jadi lebih buruk dari orang lain yang tidak menghukum dirinya sendiri. Terakhir, orang lain jadi membencimu karena yang kamu lakukan itu salah.

Niat awalku menghukummu agar kamu kembali menuruti daftar khusus tersebut, agar aku dapat mencintaimu. Tapi tentu itu salah. Menyakiti diri sangatlah tidak logis. Iya, aku berlaku kontradiktif terhadap argumenku sebelumnya.


Sekarang aku tahu, bahwa aku tidak perlu memaksa kamu menjadi seperti itu. 


Sekarang aku mengakui bahwa aku memang egois. Aku sedang berusaha untuk lebih open minded. Akulah Si Pikiran. Aku harus mulai bisa menerima dirimu. Aku harus bisa menerima Si Perasaan, yang sama-sama ada pada dirimu, diri kita. Keseimbangan lebih baik bukan daripada terjadinya dominansi?

Dengan open minded, aku yakin kita dapat lebih mudah belajar. Ternyata tidak harus selalu berlogika dalam segala aspek kehidupan. Aku belajar bahwa aku tidaklah sempurna. Tidak ada satu pun makhluk yang sempurna.


Sekarang aku tahu, produktif itu baik tapi aku juga harus menghargai proses kamu dalam mencapainya. Produk akan selalu ada selama ada usaha. Kamu tidak harus selalu mencapai suatu yang sangat tinggi sesuai ekspektasi awal kita. 

Orang lain? Ah, mereka akan selalu bisa membuat kita jatuh. Omongan dan komentar mereka tentu saja tidak dapat kita kontrol, bukan? Kita hanya bisa mengontrol apa yang ada pada diri kita, aku dan kamu. Kita cukup dengarkan pendapat mereka tanpa harus mencernanya dalam kalau hanya membawa rasa sakit. Cinta mereka juga tidak lebih berharga daripada kecintaan kita sendiri. 

Sebagai manusia, kita memang butuh untuk diterima oleh lingkungan. Namun, bukan berarti kita harus mengikuti kemauan mereka. Kalau pun mengikuti satu kemauan orang, pasti saja ada orang lain yang membencinya. Tak akan pernah habis.


Sekarang aku tahu, kita itu unik. Kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Tidak akan pernah sebanding. Kita adalah kita. Aku adalah aku. Kamu adalah kamu. Tidak ada yang ribet, selama kita tidak membuatnya demikian. Hal yang boleh aku bandingkan adalah, "kita hari ini" dengan "kita kemarin". Aku berhak atas ini. 

Dan aku tahu, tidak mudah bagimu untuk membuat perubahan besar seperti yang aku mau. Aku sekarang tidak boleh lagi memforsir dirimu karena memang tidak seharusnya begitu. Aku sangat menghargai kita yang selalu berkembang setidaknya Satu Persen setiap harinya.


Sekarang aku tahu, bahwa aku harus mencintai kita. Kita harus mencintai diri kita sendiri tanpa "tapi". Jika diperlukan, aku mungkin harus membuang daftar tiga syarat di atas. Kita sudah berjuang sejauh ini. Siapa lagi yang dapat kita banggakan selain diri kita sendiri?

Aku meminta maaf telah berbuat demikian. Memaksakan dirimu menjadi seperti keinginanku agar aku dapat mencintaimu. Untuk apa aku menyakiti diriku sendiri — yang sejatinya aku ada pada dirimu. Memang, aku tidaklah sempurna.


Pesan Terakhir (di surat ini) untuk Diriku

Sekali lagi, aku berterima kasih pada kita. Kita sudah berjuang sejauh ini. Aku sudah mengakui, bahwa perlakuanku terhadapmu dahulu sangatlah menyakitkan.

Sekarang, kamu tidak perlu lagi disiksa olehku, Si Pikiran yang dahulu jahat. Namun, tanggung jawabku di sini tetap untuk membuatmu berkembang. Malah kita tidak boleh mencintai diri kita "apa adanya". Kita akan selalu berada pada posisi ini jika begitu, stagnan. 

Maka dari itu, yang kulakukan adalah berusaha mencintai kita "tanpa tapi". Kita akan kejar mimpi kita bersama bagaimanapun prosesnya, jatuh bangunnya, dan hasil akhirnya. Aku tidak akan membenci lagi kegagalan yang kamu perbuat.

Aku akan mencintai kita. Kita akan berusaha bersama mencintai diri sendiri tanpa "tapi". Meskipun aku belum sepenuhnya berubah, aku berjanji kita akan berubah setidaknya Satu Persen setiap harinya.


Kita berjuang bersama, ya?


Tertanda,



Aku (dalam diriku).


#SatuPersenBlogCompetition

Komentar